Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, May 22, 2023

Mengenal Asal Sejarah

 Sejarah, babad, hikayat, riwayat, atau tambodalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah.

[1] Adapun ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.
[2] Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah atau ahli sejarah disebut sejarawan.
Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari ilmu budaya (humaniora). Akan tetapi, kini sejarah lebih sering dikategorikan ke dalam ilmu sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis. Ilmu sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan pada masa lalu. Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi kronologi, historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik.

Pengertian Sejarah menurut para ahli

• J.V. Bryce
Sejarah adalah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.

• W.H. Walsh
Sejarah itu menitikberatkan pada pencatatan yang berarti dan penting saja bagi manusia. Catatan itu meliputi tindakan-tindakan dan pengalaman-pengalaman manusia di masa lampau pada hal-hal yang penting sehingga merupakan cerita yang berarti.

• Patrick Gardiner
Sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.

• Roeslan Abdulgani
Ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.

• Moh. Yamin
Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.

• Ibnu Khaldun (1332-1406)
Sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.

• Moh. Ali
Moh. Ali dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut:
1. Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
2. Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
3. Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
Dari beberapa uraian di atas dibuat kesimpulan sederhana bahwa sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Dalam kehidupan manusia, peristiwa sejarah merupakan suatu peristiwa yang abadi, unik, dan penting.

• Peristiwa yang abadi
Peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa.
• Peristiwa yang unik
Peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terulang persis sama untuk kedua kalinya.
• Peristiwa yang penting
Peristiwa sejarah mempunyai arti dalam menentukan kehidupan orang banyak.


Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari berbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai "sejarah penceritaan", atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah: foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periodeyang hendak diteliti atau dipelajari. Penelitian sejarah juga bergantung pada historiografi, atau cara pandang sejarah, yang berbeda satu dengan yang lainnya.




Resensi Buku Sejarah Lokal

 Istilah sejarah daerah sebagai sejarah yang wilayahnya dipertentangkan dengan nasional atau pusat telah memberi pengertian bahwa istilah itu ambigu. Untuk menjembatani kekacauan konsensus terhadap unsur ruang atau spatial dalam sejarah lokal, maka ada tiga pengertian, yang meliputi: Unit administrative politis; unit kesatuan etniskultural; dan daerah administrative politis.

Sejarah lokal sebagai micro-unit merupakan unit historis yang mempunyai ciri khas sebagai kesatuan etnis dan kultural sebagai salah satu dimensi dari sejarah nasioanal Indonesia. Objek sejarah lokal tidak identik dengan objek sejarah nasional Indonesia, baik aspek temporal maupun sosial. Pernyataaan bahwa sejarah lokal hanya sebagai bahan pelengkap sejarah nasional Indonesia merupakan bentuk sikap rendah diri. Secara prinsipil, semua peristiwa yang tertulis dalam sejarah nasional Indonesia adalah peristiwa lokal.
Seorang sejarawan dalam mempelajari peristiwa-peristiwa masa lampau hendaknya menentukan pembatasan-pembatasan yang akan memungkinkan mereka membatasi ruang lingkup kegiatannya dengan menerapkan dasar kategorisasi peristiwa sejarah, yaitu melihat peristiwa-peristiwa itu dalam rangka apa yang disebut “unit sejarah atau unit historis”. Dalam kategorisasi peristiwa sejarah ialah adanya kerangka yang mewujudkan kesatuan yang didalamnya mengandung pola-pola dari fakta-fakta yang berada dalam satu kerangka dan didalamnya terkandung aspek kesatuan tempat (waktu) serta kesatuan spatial (ruang atau tempat) dari rangkaian peristiwanya. Mengenai aspek kesatuan spatial dari unit historis berkaitan dengan usaha membuat kategori-kategori batas lingkup kompleks peristiwa sejarah, yang bervariasi dari unit dengan skup spatial yang sangat luas sampai ke unit-unit terbatas.
Dengan demikian, unit-unit historis itu terwujud dari berbagai kategori yang menyebabkan adanya variasi lingkup sejarah, dari melebar atau meluas sampai yang menyempit atau terbatas. Lingkup historis yang bersifat meluas itu sering disebut dimensi makro dari sejarah atau sejarah makro, sedang lingkup yang sempit terbatas disebut dimensi mikro atau sejarah mikro.
Penulisan sejarah seharusnya menunjukkan kontinuitas karena sejarah itu memanjang dalam waktu atau diakronis. Diakronisme dalam sejarah memungkinkan penulisannya ditempuh dengan periodisasi, yaitu ditulis dari zaman ke zaman. Diskontinuitas sejarah terjadi bukan hanya terjadi karena kekosongan data sejarah, tetapi juga kekosongan hasil-hasil penelitian. Langkah-langkah yang ditempuh dalam mencermati penulisan sejarah Nasional Indenosia adalah:
1. Mengidentifikasi urutn unit-unit yang dominan agar mainstream (aliran pokok) Sejarah Nasional Indonesia dapat digariskan
2. Mainstream Sejarah Nasional Indeonesia mempunyai hubungan dengan sejarah local
3. Pemilihan proses-proses historis umum dan mainstream tergantung sudut pandang, interpretasi dan approach
4. Approach structural-fungsional digunakan apabila sejarah local relevan dengan proses historis umum dan mainstream tersebut.
Titik tolak studi sejarah lokal untuk usaha menyumbang bagi Sejarah Nasional Indonesia akan memancing kesulitan metodologis, menuntut perumusan permasalahan yang berbeda-beda dan skala pentingnya peristiwa tidak sama. Sejarah lokal merupakan sejarah yang tingkat abstraksinya rendah, sehingga penjelasan sejarahnya lebih bersifat detail, sedangkan tingkat abstraksi Sejarah Nasioanal itu tinggi, sehingga lebih bersifat umum. Pemahaman terhadap karya historiografi tradisional itu ditentukan oleh penghayatan kultural pembaca, sehinga tanpa penghayatan tersebut, kredibilitas menjadi lebur, atau hampir lebur dalam objeknya. Historiografi tradisional merupakan suatu karya yang tidak dapat dianggap sebagai karya yang sudah selesai. Jadi, sebagai sumber, historiografi tradisional berkedudukan sebagai sumber sekunder. Pada intinya, historiografi tradisional mencerminkan pernyataan riil yang dihayati dan patokan nilai yang dihayati (diberi makna, ditafsirkan berdasarkan the myth of concern).
Untuk mendapatkan data sejarah desa, seorang peneliti harus mengumpulkan folklore secara multidisipliner. Artinya, ia tidak sekedar mengumpulkan lore, yaitu teks cerita prosa rakyat, tetapi juga folk, yaitu konteks latar belakang kebudayaan dari masyarakat yang memiliki teks tersebut. Secara keseluruhan folklore data didefinisikan yaitu sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun, dinatara kolektif macam apa saja, secara tradisisonal dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat.

Friday, July 17, 2020

Perang Dayak Desa, Perang Sengit yang Tak Banyak Diungkit??







Kita mungkin mafhum benar dengan berdarah-darahnya peristiwa 10 November di Surabaya, Palagan Ambarawa di Jawa Tengah atau gilang gemilangnya Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta, namun diantara kita adakah yang mengetahui tentang peristiwa Mandor? Atau peristiwa Perang Dayak Desa melawan Jepang yang berlangsung sengit antara tahun 1944-1945?



Pertempuran melawan kekejian kolonialisme tentu tak hanya milik kaum nasionalis Jawa kala itu, segenap rakyat, dari semua lapisan agama serta suku di semesta nusantara rasanya tak mau ketinggalan mempertahankan kehormatan dan keutuhan kerajaan, kesultanan atau bahkan sekadar mempertahankan keutuhan desa masing-masing dari cengkraman pemerintah kolonial.


Bulan lalu saya beruntung mendapat kesempatan mengunjungi Museum Negeri Kalimantan Barat. Dari sini saya mulai mendapat wawasan baru mengenai bagaiamana Suku Dayak, etnis Tionghoa dan Melayu bahu membahu mempertahankan dan merebut Bumi Kalimantan Barat dari kekejaman pemerintahan kolonial, baik dari kekuasaan kerajaan Belanda maupun Kekasiaran Jepang. Sebuah kisah peperangan yang jarang sekali dituturkan.

Meski museum yang berdiri sejak tahun 1974 ini lebih mengangkat tema budaya suku Dayak dan Melayu, namun saya tak henti menanyakan kisah sejarah peperangan di Kalimantan Barat kepada guide sekaligus kurator yang saat saya berkunjung sabar sekali menjawab pertanyaan saya satu per satu.


Berawal dari Peristiwa Mandor Berdarah

Quote:
Kesultanan Pontianak telah berdiri paling tidak sejak 1711 masehi, diprakarsai oleh Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie, Kesultanan bercorak Islam ini menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya peradaban Melayu di tepi muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Di bawah wangsa Alkadrie, Kesultanan berulang kali mendulang masa-masa keemasan. Kehidupan kerajaan yang damai, bumi yang melimpah dan raja yang arif bijaksana menjadi faktor berkembangnya wilayah ini. Terlebih, siasat Sultan-Sultan Pontianak untuk melakukan hubungan diplomatis yang sehat dengan pemerintah kolonial Belanda membuat Kesultanan Pontianak tak banyak dirundung perkara perang dengan Kerajaan Orange itu.

Keadaan itu berlangsung lama, hingga saat pemerintah Kolonial Kerajaan Belanda tekuk lutut di hadapan kekaisaran Jepang, keadaan berubah haluan. Nampaknya cara penjajahan Jepang di seluruh wilyah tanah air lebih keji, tak terkecuali di Pontianak kala Itu. Jepang lebih pedas menentang segala sesuatu yang berlawanan dengan haluannya. Jepang tak senang dengan kesultanan dan segala aktivitas di dalamnya.

Pemerintahan Jepang selalu menaruh curiga terhadap perkumpulan para cendikia dan kehidupan lingkungan Sultan serta kekuasaan para pemilik modal. Kecurigaan ini tersulut akibat tersiarnya kabar bahwa kelak Kesultanan dan Tokoh Masyarakat akan melakukan pemberontakan masif. Jepang mendengar kabar ini, upaya antisipasi pun dilakukan pemerintahan dan pasukan militer Jepang.

Hari kelam itu pun datang, 28 Juni 1944. Berawal di daerah Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Pasukan militer Jepang melakukan pembantaian yang keji terhadap golongan-golongan cendikia, raja-raja dan feodal – feodal etnis Tionghoa yang memiliki harta dan kekuasaan melimpah. Menurut sumber sejarah, tak kurang dari 21 ribu nyawa meregang akibat pembantaian ini. Namun demikian, Kekaisaran Jepang hanya mengklaim bahwa korban yang jatuh tak lebih dari 2000 orang.

Diyakini bahwa korban tak hanya jatuh dari golongan raja dan aristrokrat, namun juga dari rakyat jelata dan tak memiliki kuasa apapun. Pasukan jepang mendobrak pintu-pintu rumah dan melakukan pembunuhan dengan sadis, konon korban-korban ini diminta untuk menggali kuburannya sendiri, setelah itu, mereka dipancung dengan pedang samurai di atas kuburan yang telah digali tersebut. Situs sejarah pembantaian ini dapat kita temui di daerah Mandor.

Diantara tokoh penting yang turut terbunuh dengan cara dipancung adalah Pangeran Adipati dan Pangeran Agung, keduanya adalah putra Sultan Pontianak. Sedangkan Sultan Muhammad Alkadrie dan Keluarga Sultan banyak yang tewas saat di tahan di Penjara.


Monuemen di Makam Juang Mandor (Tripadvisor.com)


Amarah membuncah

Quote:
Kabar mengenai Peristiwa Mandor semakin tersiar, meski sedikit korban yang jatuh dari etnis Dayak di pelosok, namun rasa kebangsaan dan rasa senasib nampaknya mulai tumbuh di seluruh Kalimantan Barat. Terlebih, kala itu kekejian Jepang terhadap komunitas Dayak Desa di beberapa wilayah di Barat Kalimantan kian memuncak.

Usaha-usaha pemotongan kayu hasil hutan yang dikuasai Jepang tengah merajalela. Pribumi dijadikan pekerja kasar tanpa bayaran oleh pasukan Jepang. Kejadian-kejadian tak mengenakan ini kemudian dilaporkan kepada salah satu pemimpin adat di desa, Pang Dandan. Maka dengan segenap niat baik untuk berunding, beberapa petinggi Suku Dayak Desa di daerah Sikucing (kini: Tayan Hilir) seperti Pang Suma dan Pang Lingan menemui seorang mandor Jepang bernama Osaki untuk meredakan benturan antara Suku Dayak dan Pekerja Jepang.

Saat akan berdiskusi dan menemukan mufakat, Osaki justru melakukan kekerasan dan perlawanan sepihak. Pang Suma dan Pang Linggan berhasil mengelak. Alih-alih membunuh Pang Suma dan Pang Linggan, Osaki justru terbunuh terlebih dahulu oleh kedua tokoh Dayak tersebut, hampir tanpa perlawanan.

Pihak jepang semakin kalang kabut dengan terbunuhnya Osaki, Nagatani sebagai salah satu petinggi Militer Jepang menyusun strategi balas dendam dengan mempersiapkan persenjataan dan pasukan yang memadai. Mendengar kabar ini, warga segera mengadakan tradisi mangkok merah.




Tradisi Mangkok Merah


Mangkok Merah, pertanda buruk bagi pasukan jepang

Quote:
Diedarkannya mangkok merah di kalangan warga desa menandakan pernyataan perang terhadap semua tindakan hina Jepang terhadap warga dan tokoh masyarakat. Maka gerakan perang semesta Kalimantan Bagian Barat pun dimulai. Kekuatan-kekuatan pasukan dikumpulkan dan dikonsolidasi.

Di pihak Jepang, Letnan Takeo Nagatani didaulat oleh Bunken Kanrikan Miagi untuk meredakan pemberontakan. Nagatani dianggap sebagai seorang letnan yang cakap dan berpengalaman serta diperkirakan mampu menghadang serangan dari rakyat desa yang hanya berebekal senjata tradisional.

Ekspedisi penumpasan warga mulai dilancarkan, Pasukan Nagatani menyusuri wilayah Tayan hingga ke Meliau (Kini daerah Sanggau, Kalbar) menelusuri Sungai Embuan menuju Tanjak Mulung. Disana lah, perang terbuka diperkirakan akan pecah.

Belum sempat tiba di Meliau, pasukan Nagatani dihadang oleh kawanan pejuang yang sudah menanti untuk menghadang di daerah Umbuan Kunyil, Hulu Sungai Kapuas, masih setengah perjalanan menuju Meliau. Penghadangan ini dipimpin oleh Pang Suma, Pang Rati, Pang Iyo, dan Djampi. Pertempuran Pecah, dengan hunusan mandau, Nagatani tewas ditempat, sedangkan Pang Suma terkena luka tembakan di kaki bagian atas.

Meski dalam keadaan luka, Pang Suma menyerukan kepada semua Rakyat Dayak Desa untuk segera membentuk pertahanan dan menyelamatkan Meliau dari cengkraman Jepang yang semakin kebakaran janggut akibat kematian Letnan Nagatani. Dengan perjuangan gigih, dengan segenap pasukan bersenjatakan mandau, sumpit, tombak dan senapan tradisional, Meliau berhasil direbut pada 30 Juni 1945.

Hingga tanggal Juli 1945, Meliau masih dibawah kontrol rakyat Dayak Desa, hingga pada 17 Juli 1945, Pasukan Jepang merangsak masuk Meliau. Peperangan besar pecah di Meliau. Pang Suma memerintahkan agar Meliau dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Panglima adat dari desa lain seperti Panglima Ajun dan Pang Linggan turut membantu pergerakan Pang Suma.


Pang Suma gugur, Meliau jatuh ke tangan Jepang

Quote:
Pertempuran antara pasukan Jepang dan rakyat Dayak Desa pun meluas ke Wilayah pelosok Meliau, dalam salah satu kesempatan konflik terbuka, Pang Suma tertembak pangkal paha kirinya, sementara banyak panglima adat lain tewas seketika dengan tembakan-tembakan yang dilepas pasukan militer Jepang. Tak lama kemudian, di sekitar Kantor Guntyo Meliau, Panglima Ajun dan Pang Linggan, panglima lain dari desa dayak sekitar Meliau turut tertembak dengan luka yang parah.

Kekuatan rakyat Dayak Desa nampaknya tak mampu bertahan lebih lama lagi, persenjataan yang tak sebanding membuat banyak rakyat Dayak yang gugur dalam pertempuran ini. Luka tembak Pang Suma pun nampaknya semakin parah, hingga akhirnya Pang Suma gugur tak tertolong.

Spoiler for :


Peralatan Perang Suku Dayak di Museum Kalimantan Barat (Dok. Pribadi)
Dalam situasi yang tidak menguntungkan ini, Panglima Kilat, panglima dari Jangkang, Sanggau berhasil menggerakkan seluruh sisa kekuatan dan menyampaikan pengumuman Perang Dayak Desa terhadap Jepang, menghabisi Jepang yang hendak menyakiti dan merebut kebebasan Rakyat Dayak Desa.

Meski di antara tanggal 17 Juli 1945 - 31 Agustus 1945 Meliau secara teritorial telah dikuasai oleh Jepang, namun masyarakat Dayak Desa tidak tinggal diam, kendati kelima panglima Dayak Desa telah gugur, dengan sisa-sisa semangat dan tenaga, rakyat Dayak Desa tetap mempertaruhkan jiwanya untuk kedaulatan hidupnya. Untuk membebaskan saudara dan anak cucunya dari cengkraman Pemerintah Kaisar Jepang.

Meski tak berbekal mesiu dan tak bersandang senapan canggih, kegigihan Suku Dayak kala itu dalam mempertahankan tanahnya dari kesewenangan penjajahan patut kita teladani. Kisah-kisah heroik yang langka dituturkan ini harusnya -paling tidak- bisa turut diulas dalam setiap momen Peringatan Hari Pahlawan.


Meski perjuangan-perjuangan mempertahakan dan mendapatkan kemerdekaan seolah terpusat di Jawa, namun kita sebaiknya tidak menutup mata terhadap perjuangan-perjuangan masyarakat dan pahlawan yang tak dikenal namanya


Mereka adalah sosok-sosok yang berani memperjuangkan setiap jengkal tanah nusantara dari rongrongan kolonialisme. Pahlawan-pahwalan yang jarang kita kenal namanya ini rela menumpahkan darahnya dan mencurahkan segenap kemampuannya untuk menyusun pilar demi pilar persatuan, merebut kembali kedaulatan agar kelak, bangsa ini dapat dipimpin oleh kaumnya sendiri.

Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944

Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944

Berbicara soal "mandor" pasti sudah banyak yang tahu arti definisinya. Tapi apakah kalian tahu ada suatu kecamatan di Kalimantan Barat yang bernama Mandor. Tidak jauh dari Pontianak, Mandor berbatasan langsung sebelah timur dari Ibukota provinsi Kalimantan Barat tersebut. Mandor dulunya masuk wilayah Kabupaten Pontianak namun kini sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Landak.

Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944
Peta Kabupaten Landak / Sumber

Daerah Mandor ini pernah jadi saksi atas pembantaian ribuan orang oleh tentara Jepang. Peristiwa yang kemudian dinamakan dengan Peristiwa Mandor ini menjadi salah satu kisah kelam dalam sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Pembantaian massal ini menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944.

Quote:


Untuk mengetahu lebih lanjut bagaimana Peristiwa Mandor ini terjadi, maka ane akan membahasnya di thread ini.


Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944

Awal Mula Kedatangan Jepang

Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944
Pesawat Tempur Jepang / Sumber

Awalnya kedatangan bala tentara Jepang di Kalimantan Barat tepatnya di Pontianak pada hari Jumat tanggal 19 Desember 1941. Saat itu pesawat Jepang membombardir Pontianak sehingga jatuh korban dari tentara Belanda maupun sipil, beberapa tentara Belanda lari ke pedalaman Kalimantan. Tepat tanggal 2 Februari 1942 barulah Jepang menginjakkan kaki pertama kali di kota Pontianak. Saat itu masyarakat setempat menerima kedatangan Jepang karena beranggapan sebagai pembebas penjajahan barat.
Melalui strategi propaganda yang populer saat Perang Dunia II, Jepang berhasil memperdayai masyarakat Pontianak. Jepang menyatakan diri sebagai saudara tua dan menebar janji membebaskan negara-negara di Asia dari penjajahan barat. Melalui program Pan-Asia Jepang akan memajukan dan menyatukan seluruh rakyat Asia dengan membentuk perkumpulan yang diberi nama “Gerakan Tiga A”.


Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944
Gerakan Tiga A / Sumber

Akan tetapi masyarakat mulai sadar akan maksud tertentu dari Jepang ini. Saat itu Jepang melarang adanya aktivitas politik yang berada di wilayah Pontianak. Semakin hari kehidupan masyarakat dibidang sosial maupun ekonomi kian sulit. Jepang juga mendirikan beberapa rumah bordir yang wanita penghiburnya diambil paksa dari rumah-rumah penduduk. Sedangkan secara ekonomi bahan kebutuhan pokok sangat sulit didapatkan karena Jepang sengaja memblokade distribusi kebutuhan pokok tersebut. Akhirnya banyak masyarakat yang melarikan diri ke daerah lain, salah satunya ke daerah Mandor.

Peristiwa Mandor ini terjadi saat Jepang sudah mencium akan adanya aksi perlawanan dari masyarakat. Saat itu Sultan Pontianak Syarif Muhammad Alkadrie mengundang seluruh kepala swapraja, yaitu Sultan dan Panembahan di seluruh Kalimantan Barat ke Keraton Kadriyah. Inti dari undangan tersebut adalah membicarakan nasib kehidupan khususnya di Kalimantan Barat yang semakin lama semakin sulit. Akhirnya seluruh Sultan dan Panembahan sepakat bahwa untuk mengatasi kesulitan tersebut adalah dengan mengusir Jepang dari Kalimantan Barat. Mengetahui akan adanya rencana tersebut Jepang mulai menyusun strategi. Ditambah saat waktu yang berdekatan terjadi pemberontakan di Kalimantan Selatan sehingga Jepang merasa khawatir apabila pemberontakan juga terjadi di Kalimantan Barat.

Dengan jurus propaganda, Jepang mulai memberitakan di koran setempat bahwa adanya komplotan besar yang mendurhaka untuk melawan pemerintahan Jepang. Dengan alasan yang berbau rekayasa tersebut, Jepang melakukan langkah-langkah pencegahan yaitu mulai menangkap satu persatu pihak-pihak yang dicurigai dari berbagai kalangan.

Pada 23 Oktober 1943, aksi penangkapan dimulai dengan menahan sultan dan pengikutnya, tokoh masyarakat dan kaum cendikiawan. Beberapa kerabat dan tokoh-tokoh lain juga ditangkap dan tidak pernah kembali. Tidak hanya itu juga aksi penangkapan melebar sampai masyarakat umum khususnya di daerah Mandor, setidaknya laki-laki di atas umur 12 tahun tak luput dari penangkapan bala tentara Jepang. Sampai akhirnya pada tanggal 28 Juni 1944 merupakan puncak gelombang pembunuhan keji Jepang atas ribuan masyarakat Mandor. Pembantaian Jepang ini berhenti kala Sekutu sudah mulai masuk di wilayah Kalimantan Barat dan akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.



Perlawanan Suku Dayak terhadap Jepang

Atas perlakuan Jepang yang kejam dan tidak mengenal belas kasihan akhirnya benar-benar mendorong terjadinya perlawanan di Kalimantan Barat. Salah satunya dari Suku Dayak.

Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944
Pejuang Dayak / Sumber

Perlawanan ini awalnya disebabkan seorang pejabat Jepang yang ingin menikah dengan seorang putri Dayak, namun tokoh tetua Suku Dayak tidak menyetujuinya sehingga timbul perkelahian antara orang Jepang dengan orang Dayak yang akhirnya terbunuhnya orang Jepang tersebut. Orang Dayak yang dimaksud adalah Pang Linggan dan Pang Suma. Ditambah Suku Dayak memang tidak menyukai sikap orang Jepang karena sering memukul dan menindas masyarakat suku Dayak.

Berita perlawanan tersebut terdengar Jepang hingga ke Pontianak sehingga dikirimkan pasukan Jepang untuk menghabisi pasukan Pang Linggan dan Pang Suma. Sempat memenangkan pertempuran pertama tersebut, akhirnya Pang Linggan dan Pang Suma gugur oleh pasukan Jepang dipertempuran kedua.



Dampak Kekejaman Jepang

Tercatat lebih dari 20.000 orang menjadi korban keganasan Jepang di wilayah Mandor dan sekitarnya. Bahkan ada keterangan yang menyebutkan target penangkapan yang direncanakan sebenarnya sejumlah 50.000 orang namun belum terlaksana secara maksimal dikarenakan saat itu Jepang kalah atas Sekutu.

Para korban pembunuhan bala tentara Jepang ini juga melebar sampai seluruh Kalimantan Barat. Namun memang yang paling banyak terjadi di wilayah Mandor. Sebagaimana diketahui Jepang menaruh curiga kepada para pemimpin Sultan dan Panembahan di Kalimantan Barat sehingga setidaknya ada 12 korban dari kalangan tersebut, antara lain:

1. Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak)
2. Gusti Muhammad Thaufik Aqamaddin (Panembahan Mempawah)
3. Sultan Muhammad Ibrahim Tsafioedin (Sultan Sambas)
4. Gusti Abdul Hamid (Panembahan Ngabang)
5. Gusti Saoenan (Panembahan Ketapang)
6. Tengku Idris (Panembahan Sukadana)
7. Gusti Mesir (Panembahan Simpang)
8. Ade Muhammad Arief (Panembahan Sanggau)
9. Gusti Djafar (Panembahan Tayan)
10. Gusti Kelip (Panembahan Sekadau)
11. Raden Abdulbahri Danu Perdana (Panembahan Sintang)
12. Syarif Saleh Al-Idrus (Panembahan Kubu)

Penindasan Jepang Terhadap Mandor! Sejarah Kelam Pada 28 Juni 1944
Sultan Syarif Muhammad Alkadrie / Sumber

Bahkan Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ditangkap bersama ketiga anak laki-lakinya dan kerabatnya. Sekitar 30 anggota kerabatnya turut menjadi korban. Pada 12 korban Sultan dan Panembahan tersebut akhirnya menimbulkan dampak terganggunya pemerintahan feodal lokal di seluruh Kalimantan Barat.

Dampak keganasan Jepang juga menimbulkan luka yang mendalam bagi masyarakat Kalimantan Barat. Banyak anggota keluarga dan kerabat yang terbunuh, tak jarang banyak anak kecil sudah menjadi yatim piatu. Dampak dari peristiwa ini juga hilangnya kaum cendikiawan sehingga membuat daerah ini kehilangan generasi orang-orang terpelajar dan berpengaruh. Beberapa diantaranya dari kalangan tenaga kesehatan, pengajar, jaksa, operator radio dan tokoh politik.


Quote:

8 Pemberontakan Paling Besar dalam Sejarah Indonesia

Ini 8 Pemberontakan Paling Besar dalam Sejarah Indonesia, Nomor Satu Paling Populer

JAKARTA - Pemberontakan dapat timbul dalam berbagai bentuk, mulai dari pembangkangan sipil (civil disobedience) hingga kekerasan terorganisir yang bertujuan meruntuhkan sebuah pemerintahan yang berkuasa.

Di Indonesia sendiri tercatat sejumlah pemberontakan yang sempat pecah. Berikut daftarnya:

1. Pemberontakan G30S/PKI

Gerakan G30S/PKI sendiri terjadi pada tanggal 30 September 1965, tepatnya saat malam hari. Insiden G30S/PKI masih menjadi perdebatan berbagai kalangan mengenai siapa penggiatnya dan apa motif yang melatar belakanginya.

Akan tetapi kelompok reliji terbesar saat itu dan otoritas militer menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan ulah PKI yang bertujuan untuk mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.

Hingga pada puncaknya Pada tanggal 30 September 1965, PKI melakukan penculikan terhadap enam orang jenderal TNI AD. Tiga jenderal itu adalah MT Haryono, Ahmad Yani dan DI Panjaitan yang tewas di tempat. Sedangkan Tiga jenderal lainnya seperti Sutoyo Siswomiharjo, Soeprapto dan S. Parman dibawa oleh para pemberontak dalam kondisi hidup.

2. Pemberontakan Permesta

Proklamasi PRRI ternyata mendapat dukungan dari Indonesia bagian Timur. Gerakannya dikenal dengan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Permesta dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia bagian timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual.

Gerakan ini jelas melawan pemerintah pusat dan menentang tentara sehingga harus ditumpas. Untuk menumpas gerakan Permesta, pemerintah melakuakan operasi militer beberapa kali.

3. Pemberontakan PRRI

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI tercipta sebagai buah dari protes masyarakat daerah yang merasakan ketidakadilan pemerintah pusat. Daerah kecewa terhadap pemerintah pusat yang dianggap tidak adil dalam alokasi dana pembangunan.

Kekecewaan tersebut diwujudkan dengan pembentukan dewan-dewan daerah seperti Dewan Manguni di Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Kolonel Ventje Sumual, Dewan Garuda di Sumatra Selatan yang dipimpin oleh Letkol Barlian, Dewan Gajah di Sumatra Utara yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolan, Dewan Banteng di Sumatra Barat yang dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein.

4. Pemberontakan PKI di Madiun

Pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Tujuannya untuk meruntuhkan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Pada waktu yang bersamaan, gerakan PKI dapat merebut tempat-tempat penting di Madiun.

Kemudian atas perintah Jenderal Sudirman, tentara berhasil menumpas gerakan ini. Sang tokoh utama itu tewas sedangkan beberapa yang lain seperti Dipa Nusantara Aidit (DN. Aidit) berhasil meloloskan diri.

5. Pemberontakan DI/TII

Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII) dibentuk karena banyak pihak yang kecewa dengan kepemimpinan Presiden Soekarno. Tujuan DI TII sendiri ialah mendirikan negara berbasis Islam dengan pimpinan utamanya bernama Kartosuwiryo. Kelompok ini rupanya mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk Aceh dan beberapa daerah lain yang bahkan menyatakan bergabung dengan organisasi tersebut.

Dalam perkembangannya, DI TII menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Aceh.

6. Pemberontakan GAM

Gerakan Aceh Merdeka merupakan sebuah organisasi separatis yang memiliki tujuan supaya daerah Aceh lepas dari Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya korban hampir sekitar 15.000 jiwa.

Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro yang sekarang bermukim di Swedia dan memiliki kewarganegaraan Swedia.

7. Pemberontakan OPM

Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah sebuah gerakan nasionalis yang didirikan tahun 1965 yang bertujuan untuk mewujudkan kemerdekaan Papua bagian barat dari pemerintahan Indonesia. Sebelum era reformasi, provinsi yang sekarang terdiri atas Papua dan Papua Barat ini dipanggil dengan nama Irian Jaya.

8. Pemberontakan RMS

Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat).

Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan harus segera ditumpas. Pulau-pulau terbesar yang menjadi basis RMS adalah Pulau Seram, Ambon, dan Buru. Di Ambon RMS dikalahkan oleh militer Indonesia pada November 1950, tetapi konflik di Pulau Seram masih berlanjut sampai Desember 1963.

Friday, September 30, 2016

Nama Aneh Perusahaan Sebelum Terkenal


Saat ini pastinya banyak di antara kita yang sangat akrab dengan nama-nama seperti Google, Apple, ataupun Facebook. Namun jauh sebelum nama-nama perusahaan teknologi tersebut tenar seperti sekarang, ternyata para pendirinya sempat memberikan nama lain yang terdengar cukup aneh.

Berikut 7 nama perusahaan teknologi populer di kala mereka belum ngetop :

1. Yahoo

Yahoo adalah salah satu perusahaan berbasis internet terbesar di dunia. Sebelum era Google, Yahoo merajai hampir seluruh lini bisnis informasi di dunia maya, mulai dari mesin pencari, portal berita, hingga ramalan cuaca.

Sebelum populer, Yahoo ternyata memiliki nama lain. Saat pertama kali dipublikasikan, duo pendiri Yahoo, Jerry Yang dan David Filo, menamai situs mesin pencari mereka ini dengan nama yang aneh dan cuku panjang, yakni `Jerry and David’s guide to the World Wide Web`. Cukup panjang dan tidak akrab di telinga bukan?

Nama yang aneh itu dipakai sepanjang tahun 1994, namun di tahun 1995 akhirnya duo pendiri itu mengubah nama perusahaannya menjadi Yahoo yang merupakan kependekan dari `Yet Another Hierarchically Organized Oracle`.

2. Apple Macintosh

Menurut buku biografi Steve Jobs, pendiri Apple itu awalnya tidak ingin menggunakan Macintosh untuk produk komputer rumahan mereka. Jobs awalnya bersikeras untuk menggunakan brand `Bicycle` untuk produk komputer mereka itu. Sang legenda dunia teknologi itu memang terpikat dengan sepeda. Untungnya salah seorang karyawan Apple kala itu, Jeff Raskin, menyarankan untuk menggunakan brand `Mac`.


3. Twitter


Twitter, jejaring sosial microblogging yang digemari banyak orang. Perusahaan yang didirikan oleh Jack Dorsey ini sudah berkali-kali gonta-ganti nama. Awalnya Twitter sempat menggunakan nama `Jitter`, lalu berubah menjadi `Twicth`. Dan yang paling terakhir adalah `TWTTR`, sebelum akhirnya menggunakan nama Twitter.


4. Google

Dua pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin bertemu di Stanford University. Keduanya mulai mengerjakan sistem mesin pencari di tahun 1996. Kedua founding father ini awalnya tidak berencana memberi nama Google, mereka justru ingin menggunakan nama `BackRub`.

Setahun kemudian mereka mengubahnya menjadi `Googol`, sebuah kata yang berasal dari referensi matematika untuk menyebut angka 1 yang diikuti oleh seratus angka 0. Dan pada akhirnya dipatenkan menjadi Google.


5. Facebook


Seperti yang sudah banyak diketahui orang dari cerita film `Social Networks`, Mark Zuckerberg pada awalnya mengunakan nama TheFacebook.com pada tahun 2004 khusus untuk para mahasiswa Harvard. Ketika situs media sosial ini berkembang ke banyak kampus, maka Zuck memutuskan untuk mengganti namanya menjadi lebih simpel, Facebook.com. Domain ini dibeli Zuck pada tahun 2005 dengan harga US$ 200 ribu.

6. LG


LG adalah salah satu produsen perangkat elektronik terbesar dan tertua di Korea Selatan. Perusahaan ini berdiri di tahun 1958 dengan nama `GoldStar`. Nama tersebut digunakan cukup lama, hingga pada tahun 1995 berganti nama menjadi LG dan menggunakan logo ikonik seperti sekarang ini.

7. Amazon

Amazon didirikan oleh Jeff Bezos pada tahun 1994. Awalnya Bezos ingin menggunakan nama `Cadabra`, namun pengacara perusahaannya tak setuju dengan nama itu dan menyarankan penggunaan nama yang lebih `Amerika`. Bezos akhirnya memilih nama Amazon yang berefrensi pada salah satu sungai terbesar di Amerika Serikat.